“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah: 3)
Katakanlah (hai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron: 31)
Bagi kita umat islam, meyakini tentang agama ini beserta ajaran di dalamnya adalah berdasarkan landasan yang kuat yang berasal dari dua sumber, yakni Al-Quran dan Hadits (Sunnah) yang shohih. karena jaminan Rasulullah SAW., Menyatakan “Aku meninggalkan dua perkara, kalian tidak akan tersesat sampai kapanpun selama kalian tetap berpegang teguh kepada keduanya, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah nabinya (Al-Hadits). -HR.Malik dalam Al-Muwattho-
Begitu pun kita meyakini, di Hari Akhir nanti ada yang disebut dengan Haudhunnabi (Telaga Nabi) yang mengalir kepadanya air sungai (Al-Kautsar) dari surga, yang penuh dengan berbagai kebaikan berdasarkan beberapa keterangan yang shohih dan Mutawatir. Barang siapa yang meminum air di telaga tersebut, maka ia tidak akan mengalami haus selamanya, putihnya air itu lebih putih dari air susu, baunya lebih harum dari Kasturi, dan rasanya lebih manis dari madu. demikianlah digambarkan dengan indah dalam beberapa hadits yang mulia.
Di dalam beberapa keterangan tersebut diceritakan betapa kerinduan yang sangat dirasakan oleh Rasulullah SAW. untuk bertemu langsung dengan umatnya dari generasi awal sampai akhir zaman, untuk berkumpul bersama di telaga beliau dengan penuh kecintaan dan mengharapkan keselamatan dari umatnya. pun begitu sebaliknya kita ummatnya, sangat sekali mengharapkan bertemu dengan beliau secara langsung yang selama ini kita hanya mengenal beliau dari lembaran-lembaran tarikh (sejarah) nya. namun di saat yang berharga tersebut, terjadi peristiwa yang tidak diharapkan sebelumnya oleh Rasulullah SAW., yaitu pengusiran sebagian ummatnya dari telaga tersebut laksana unta liar yang terusir dalam keadaan penuh dahaga. mereka adalah orang-orang yang membuat aturan, ketentuan, atau ajaran baru dalam agama ini setelah kesempurnaanya, yang tidak ditentukan dan dipraktekan oleh rasulullah. sebagaimana diceritakan dalam hadits di bawah ini.
Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: Ketika Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar "nikmat yang banyak". Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus. Kemudian beliau bertanya: Tahukah kalian, apakah Kautsar itu? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Itu adalah sungai yang dijanjikan Tuhanku. Sungai yang menyimpan banyak kebaikan dan merupakan telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat. Wadahnya sebanyak bilangan bintang. Ada sekelompok orang yang ditarik (diusir) dari kumpulan mereka. Aku berkata: Ya Tuhanku, dia termasuk umatku. Allah berfirman: Engkau tidak tahu, dia telah membuat suatu bid'ah (hal-hal yang baru dalam agama) sepeninggalmu. (HR.Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a.: ia berkata, Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم menziarahi kuburan. Beliau berdoa:
"Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu". Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: (jikalau begitu) jauhkanlah mereka ya Allah dari telagaku, jauhkanlah.. (HR.Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a.: ia berkata, Bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم menziarahi kuburan. Beliau berdoa:
"Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu". Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: (jikalau begitu) jauhkanlah mereka ya Allah dari telagaku, jauhkanlah.. (HR.Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, menunjukan betapa berat dan besarnya urusan bid’ah ini, maka hendaklah kita berhati-hati. dan takut manakala sudah mengetahui bahwa suatu perbuatan itu bid’ah.
Di akhirat kelak, yang akan menyelamatkan kita bukan lagi harta, jabatan, relasi, kerabat, pengikut, pemimpin. Akan tetapi hanyalah amalan yang kita upayakan ketika di dunia. amalan-lah yang merupakan teman kita satu-satunya yang setia menemani kita semenjak masuk liang lahat sampai yaumul mizan. maka alangkah meruginya jikalau amalan-amalan yang dilakukan di dunia tersebut gugur, tertolak..
Sabda Nabi SAW., “Man ‘amila ‘amalan laisa alaihi amruna fahua roddun” (barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dariku, maka ia tertolak.) –HR. Muslim-
Telah berkata Imam Malik bin Anas rahimahullah:
“Barangsiapa mengada-adakan di dalam islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”Maka sesungguhnya yang tidak menjadi bagian dari agama pada hari itu (hari pada saat ayat ini turun –ag), tidak menjadi bagian dari agama pula pada hari ini.” (Al I’tishom, Imam Asy Syatibi 1/64)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang hidup diantara kalian sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang berpetunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, -ag), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi)
Akhir kata
Perintah dan ajakan untuk menghindari bid’ah adalah amanah dan perintah langsung dari Rasulullah SAW. sampai akhir masa. mudah-mudahan kita semua adalah termasuk dari kelompok yang turut berkumpul dengan Rasulullah SAW di telaganya dalam naungan cintanya. Amiin. Wallahu A’lam bis-Showwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar