Rate This
In the times of darkness and greed, it is a light that we need, you come to teach us how to live, Muhammad ya Rasulullah…
I try to follow your way, and do my best to live my life, as you taught me, I pray to be close to you..O Muhammad Rasulullah, khairu khalqillah!
(Maher Zain)
“Met Milad ya, semoga semakin tambah cantik”
Ungkapan itu tersebar di setiap sudut Facebook, menyusul informasi dari net-social-ware miliknya Zuckerberg untuk menandakan hari lahir seseorang. Kemudian seseorang yang diberi selamat pun menjawab, “Makasih ya met miladnya”.
Saudara-saudaraku, remaja muslim!
Kita harus kritis. Happy Birthday, yang diserapkan ke bahasa arab menjadi Met Milad sama sekali bukan tradisi Islam. Ia adalah tradisi populer barat yang tidak perlu kita lakukan. Kita tidak perlu inferior jika tidak mengikuti kebiasaan banyak orang (budaya pop) yang tidak berasal dari rahim aqidah kita.
Ungkapan ini cukup saya katakan sebagai perbuatan bid’ah. Ciri khas bid’ah adalah perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, meski waktu itu sangat mungkin dan mudah untuk dilakukan. Tapi Rasulullah sudah mulai memerangi budaya ini dengan sebuah ungkapan singkat,
من تشبه بقوم فهو منهم – ابو داود
Siapa orang yang menyerupai tradisi sebuah kaum, maka ia bagian dari mereka. (HR. Abu Daud)
Memang, tidak ada yang tahu pasti dari manakah tradisi met milad itu dimulai. Namun jika anda ikuti tradisi serupa, dapat dipastikan anda bukan bagian dari penghidup tradisi Islam.
Lucunya, ungkapan polos met milad tidak pernah kita kritisi walau secara bahasa. Milad berasal dari kata walada (ولد), dengan menggunakan wazan isim alat jadilah mîlâd. Seperti fataha (فتح) yang berarti membuka, jika menggunakan wajan isim alat menjadi miftâhun (مفتاح) yang berarti alat membuka atau kunci. Jadi mîlâd itu berarti alat melahirkan atau (maaf) berarti rahim dan kelamin perempuan. Andai kita ucapkan met (dari selamat) mîlâd, maka akan berarti sesuatu yang sangat menggelikan jika kita coba terjemahkan!
Usia adalah Amanah
Usia adalah amanah. Semakin tua usia kita, semakin banyak pertanggungjawaban yang harus kita selesaikan dengan Sang Khaliq. Rasulullah Saw., bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang kalian pimpin.” (Bukhari). Sebagai, makhluk yang ‘terikat kontrak’ (mîtsâqan ghalîdzâ) sejak alam ajali, tentu saja kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang usia kita. Dipakai apakah usia kita selama ini. Jika kita berusia 18 tahun dan baligh di usia 13 tahun, maka selama lima tahun, kita akan diminta pertanggungjawaban. Berapa persen dari lima tahun itu yang kita pakai untuk beribadah, berapa persen lagi yang kita pakai laghâ (main-main), serta berapa persen sisanya yang kita pakai maksiat.
Jika anda masih merasa percaya diri, dalam rentang waktu lima tahun itu lebih banyak anda gunakan untuk ibadah, mari kita evaluasi amalan sunnah harian kita. Dalam satu hari, berapa kali anda lupa berdoa untuk seluruh aktivitas anda? Dalam satu minggu berapa kali anda bangun tidur tepat waktu? Berapa ayat dalam satu minggu yang anda baca dan hafal? Berapa hadits yang anda baca dan hafal dalam satu minggu? Berapa penggal ayat yang kita tadabburi dalam sehari? Berapa riwayat hadits yang kita telusuri penjelasannya dalam sehari? Berapa hari dalam seminggu kita tahajud? Berapa hari dalam seminggu kita shaum? Berapa hari dalam sehari kita melakukan shalat rawatib? Pernahkan setiap hari sholat dhuha? Pernahkah setiap hari anda sedekah? Pernahkah setiap hari anda membantu orang yang kesulitan?
Jika anda sudah tidak bisa mengandalkan amalan sunnah karena masih bolong-bolong, artinya anda tinggal mengandalkan amalan wajib! Namun sempurnakah amalan wajib kita? Masihkah anda berani meninggalkan sholat lima waktu? Kalau jawaban anda tidak, sudah sesuaikah tata cara sholat anda dengan cara Rasulullah Saw? Jika jawaban anda sudah, pertanyaan berikutnya adalah berapa kali dalam satu hari anda merasa sholat anda berkualitas dipenuhi dengan kekhusyuan, menghayati setiap gerakan dan ucapan yang kita lakukan? Itu hanya sholat. Bagaimana dengan shaum? zakat? atau haji anda?
Mari kita berandai-andai. Andai satu jam dalam satu hari anda benar-benar yakin beribadah kepada Allah dengan kualitas sempurna, itu berarti ada 1.825 jam dalam lima tahun (dari sekitar 43.800 jam dalam lima tahun usia taklif anda) yang telah anda gunakan untuk ibadah kepada Allah. Sisanya sebanyak 41.975 jam anda gunakan untuk laghâ (main-main) atau bahkan mungkin maksiat kepada Allah?!
Jika lima tahun kita sudah begitu banyak meluangkan waktu untuk laghâ dan maksiat, bertambah usia berarti bertambah pula kedurhakaan kita. Pantaslah Allah SWT berfirman,
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Sungguh Kami telah tempatkan kalian di bumi dan kami jadikan bagi kalian di bumi tempat berkehidupan. (Namun sayang), sangat sedikit yang kalian syukuri (QS. Al-‘Araf, [7]:10).
Jika sisa usia kita dipergunakan untuk kemaksiatan dan permainan, masih percaya dirikah kita untuk mengatakan, “Happy Birthday”; “met milad”; “Selamat berulang tahun”; dsb.?
Bertambah usia bukanlah kebahagiaan, ia adalah peringatan, ‘Sudah berbekal apakah kita’ di usia yang semakin menipis ini? Di sebuah waktu yang hari pertanggungjawaban itu semakin mendekat? Yaa hasratanâ (alangkah ruginya) jika bergembira dengan itu!
Ciri kebodohan kita yang berulang kali Allah ungkapkan dalam Al-Quran adalah kenyataan bagian besar dalam kita tidak pernah merasa bahwa amanah ini adalah berat dan bahkan sangat berat. Bahkan menurut penelitian kontemporer ilmuwan barat seperti yang ditulis Yunda Hartati menyebutkan bahwa setiap hari manusia mempunyai 60.000 pikiran yang muncul di otaknya. Sekitar 80 persen dari pikiran tersebut adalah pikiran negatif. Atau, 45.000 pikiran yang muncul di otak manusia setiap hari adalah negatif.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُول
Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanah ini agar langit, bumi, dan gunung memikulnya. Kemudian mereka menolak untuk memikul amanah itu karena mereka khawatir akan mengkhianati amanah itu, kemudian manusialah yang (berani) memikulnya. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh (QS. Al-Ahzâb, [33]:72).
Berbeda dengan Maryam yang pernah mengungkapkan beratnya amanah yang diberikan Allah kepadanya,
قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan” (QS. Maryam, [19]:23).
Maryam adalah wanita sholeh, ia habiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah, siang dan malam. Ia sering beruzlah ke sebuah tempat terpencil, berkomunikasi pada Allah dengan cara ibadah kepada-Nya. Matanya, mulutnya, suaranya dan setiap langkahnya terjaga dari hal-hal maksiat, apalagi laghâ (permainan yang tidak berfaidah). Dengan segala kerendahan hati dan segudang amal yang ia persembahkan kepada Allah, ia masih merasa bahwa ia lebih baik tidak ada dan tidak menjadi apa-apa. Ia tidak berbangga dengan setiap pertambahan usianya, bahkan ia merasa khawatir pertambahan usianya itu membuatnya hilang kendali, terlempar dari pangkuan dan keharibaan Allah.
Lalu pantaskah kita yang masih banyak melakukan laghâ dan maksiat berbangga hati dengan kehadiran kita di alam fana ini, mengucap selamat dan merasa percaya diri dengannya?
Tapi bukankah ucapan itu adalah doa? Benar, saudaraku! Mendoakan sesama muslim adalah kewajiban agama. Namun sesuatu yang baik harus dilakukan dengan benar pula. Dengan tradisi dan sunnah yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Di dunia ini, kita sedang mencoba mengikut jejak langkah beliau (we try to follow his way), sebab beliau datang untuk mengajarkan cara hidup sejati (he came to teach how to live).
Sebagai muslim kita disunnahkan untuk berdoa dengan gaya dan tradisi Islam, kita harus ‘lawan’ komunitas yang berdoanya terbatas pada setiap kali hari lahirnya saja. Muslim dengan sesamanya disunnahkan untuk mendoakan mereka setiap hari, setiap waktu, di mana dan kapan saja!
Oleh sebab itu, jika anda ingin tergabung pada komunitas ‘mereka’ saya persilahkan anda untuk meneruskan gaya semacam itu. Tapi jika anda ingin menjadi saudara Rasulullah yang selalu beliau rindukan, anda tahu apa yang harus anda lakukan. Wallâhu ‘alam
Sumber : http://eakhbar.blog.com/?p=3628
Tidak ada komentar:
Posting Komentar